BAB 1 : Kota Harapan Baru
Aldan Maheswara menempelkan wajahnya ke jendela mobil. Ia mengamati deretan bangunan baru yang berdiri rapi di hadapannya. Udara di jalanan masih berbau semen basah. Pohon-pohon yang baru ditanam terlihat kecil dan berjajar lurus di pinggir jalan. Di kejauhan, sisa-sisa hutan yang gelap dan lebat masih terlihat, seolah menjadi batas alami dari proyek pembangunan ini.
“Selamat datang di Kota Harapan Baru, Dan,” kata ayahnya, Prof. Aditya, sambil menepuk-nepuk setir seakan ia yang membangun kota itu sendirian. “Kota masa depan.”
“Kota masa depan yang masih berdebu,” gumam Aldan.
Prof. Aditya mengabaikan komentar itu. Dia memang ahli biologi, tapi akhir-akhir ini lebih sering bicara tentang proyek pembangunan daripada tentang DNA. Rambutnya yang dulu berantakan seperti profesor gila, kini rapi dan disisir ke belakang. Tanda-tanda kalau ayahnya sudah lama tenggelam di dunia para pejabat dan proyek-proyek besar.
Mobil melewati papan reklame raksasa yang memamerkan slogan kota:
Aldan memutar bola matanya. “Ayah yakin proyek ini aman?”
“Tentu,” jawab Prof. Aditya. “Semua sudah melalui proses. Kota ini akan jadi pusat penelitian terbaik di Indonesia. Kamu akan betah di SMA Harapan Raya.”
“Hmm.” kening Aldan mengerut.
Aldan tetap menatap hutan yang terpotong. Hingga tiba saat Aldan merasa ada sesuatu terasa aneh. Seperti ada mata-mata yang mengintip dari balik pepohonan yang tersisa. Mungkin hanya imajinasinya. Atau mungkin bukan.
***
SMA Harapan Raya terlihat lebih mewah daripada sekolah yang pernah Aldan lihat di mana pun. Catnya masih segar, bau bangunannya masih baru. Halaman sekolah dipenuhi rumput sintetis yang—menurut Aldan—tidak punya jiwa.
Sementara ayahnya mengurus administrasi di kantor guru, Aldan memutuskan berkeliling.
Di tengah aula, ia berhenti. Sekolah itu memang besar, tapi terasa… kosong. Suara langkahnya menggema. Cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela besar membuat lantainya berkilau seperti panggung konser.
“Ini sekolah atau museum?” gumam Aldan.
Tiba-tiba, BRUK! — suara keras terdengar dari sisi aula.
Aldan refleks menoleh. Seorang siswa laki-laki terlihat meringkuk di lantai sambil memegang pergelangan tangan, sementara seorang perempuan berdiri di depannya dengan ekspresi datar.
Siswa yang dijatuhkan menggerutu dan kabur. Sebagian siswa lain bersorak kecil, sebagian lainnya pura-pura sibuk dengan ponsel. Perempuan itu mengambil tas hitam yang ternyata milik seorang anak laki-laki mungil dengan sweater kebesaran.
Anak itu—yang wajahnya manis dan gerakannya gemulai—berkata lirih, “Makasih, Clara…”
“Jaga barang-barangmu dari para cecurut itu” kata Clara, melemparkan tas itu ke arahnya. “Di sekolah seperti ini, masih saja banyak curut tukang bully.”
“Oh—eh—iya,” jawab Aldan canggung.
Clara mengangguk sekali. “Selamat datang dan berhati-hatilah"
Dengan santai ia pergi, meninggalkan Aldan yang masih mematung sambil memikirkan apa maksud perkataan Clara.
***
Belum sempat mengatur napas, Aldan mendengar teriakan dari luar aula.
“WOI! JANGAN LARI DARI TANGGUNG JAWAB, KALIAN!”
Aldan keluar dan melihat seorang siswa berkemeja lusuh memanjat pagar untuk mengejar tiga anak yang kabur sambil membawa sepatu olahraga seseorang. Siswa itu lompat turun sambil tertawa:
“Akan kuambil kembali!”
Dalam lima detik, ketiganya sudah bersujud meminta ampun, dan sepatu berhasil direbut kembali. Si siswa lucu-macho itu mengangkat sepatu seperti piala dunia.
“Sekolah pertama di kota baru, dan aku sudah jadi pahlawan sepatu. Mantap.”
Ia melihat Aldan berdiri bengong dan langsung menyodorkan tangan.
“Nama gue Farrel. Kayaknya gua baru lihat.”
“Oke, Aldan. Sekolah ini gak seperti yang lo lihat, kemegahannya cuma topeng.”
Farrel menepuk bahu Aldan begitu keras sehingga Aldan hampir terpental.
***
Saat ia menatap gedung laboratorium biologi yang baru direnovasi, ia sempat melihat seseorang di balik jendela gelap. Seperti bayangan. Bergerak cepat. Terlalu cepat untuk ukuran manusia.
Aldan berkedip—dan bayangan itu menghilang.
Ia bergumam pelan.
“Baru masuk sekolah… kok sudah berasa masuk film horor?”
Dan entah kenapa, angin hutan yang lewat terasa seperti menjawab.

Posting Komentar
0 Komentar